Rabu, 06 April 2011

MetPen

BERPIKIR ILMIAH
 Pengetahuan adalah hasil kegiatan berpikir
 Berpikir adalah kegiatan mental yang sulit (Thinking is hard work)
 Ilmu adalah pengetahuan yang telah diuji kebenarannya
 Pengertian Berpikir Ilmiah : berpikir secara analitis menggunakan logika/penalaran tertentu dengan sikap skeptis.
Analitis : menganalisis persoalan yang relevan dan tidak relevan, masalah utama atau penunjang
Menggunakan logika : berpikir berdasarkan logika (metode deduktif dan induktif) dengan pertimbangan objektif berdasarkan data dan analisis akal sehat
Sikap skeptis : menanyakan bukti/fakta, atau berdasarkan fakta

PERANGKAT BERPIKIR ILMIAH
 Untuk dapat berpikir ilmiah diperlukan sarana berupa bahasa, logika , matematika, statistika
 Bahasa : alat komunikasi verbal untuk menyampaikan jalan pikiran
 Logika : pola berpikir (penalaran).
Sillogisme : Jika premis-premis (pernyataan) benar maka kesimpulan benar
 Matematika : sarana berpikir deduktif
 Statistika : sarana berpikir induktif

METODE BERPIKIR
 Analyse : consider the various components of whole and try to describe the inter-relationships between them
 Compare : examine the characteristics of the objects in question to demonstrate their similarities and their differences
 Contrast : examine the characteristics of the objects in question to demonstrate their differences
 Define : give a definition or state term of reference
 Describe : give an account
 Discuss : present the different aspects of a question or problem
 Enumerate : give a listing
 Evaluate : examine various sides of a question and try to reach a judgement
 Examine critically : act as a judge or critic, appraise
 Illustrate : give an example, explain, draw a figure
 Prove : demonstrate or show by logical argument
 Summarise : state the main points briefly

PENALARAN
Proses penalaran (Penarikan Kesimpulan)
1. Penalaran Deduktif : menarik kesimpulan bersifat individual (khusus) dari peryataan yang bersifat umum
 Berpikir menggunakan rasio, tanpa perlu bukti nyata
 Melahirkan aliran rasionalisme
 Penerapan dalam mengarahkan penelitian mengikuti urutan : teori, hipotesis, operasional, observasi, pengujian hipotesis
2.Penalaran Induktif : menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus individual (khusus).
 Kebenaran berdasarkan bukti nyata
 Melahirkan aliran empiris
 Penerapan dalam mengarahkan penelitian mengikuti urutan : observasi, pengujian hipotesis, pembentukan pola generalisasi, teori.

METODE ILMIAH
 Berfikir teoritis diterima nalar (rasional), logis
 Diuji kebenarannya ( Empirik )
 Metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari metode
 Pendekatan rasional saja : Abstraksi intelektual dimana pendekatan secara rasional digabungkan
 Hasil kajian teori dan kerangka berfikir bersifat jawaban sementara - hipotesis
 Harus diuji secara empirik
 Logika hypothesis verifikasi
 Logika : Teori dan kerangka berfikir
 Hypotesis : Jawaban sementara
 Verifikasi : pembuktian empirik
 Gabungan antara deduksi dan induksi

KARAKTERISTIK ILMIAH
 Purposiveness : definite aim or purpose
 Rigor : based a good theoritical, and carefully thoughout methodology design
 Testability : the hypothesis can be tested when data are collected, such as statistic test
 Replicability : the result of test hypothesis should be supported again hwn the same type of research is repeated in other similar circumtance
 Precision and confidence
Precision : refers to the closeness of findings to reality (confidence interval).
Confidence refers to the probability that our estimation are correct (significant level p = 0.5)
 Objectivity : the result should be based on facts (derived from actual data) not on our subjective or emotional value
 Generalizability

JENIS PENELITIAN
Berdasarkan tujuan ada 2:
1. MURNI
 menemukan pengetahuan baru
2. TERAPAN
 pengetahuan yang telah diketahui untuk memecahkan masalah kehidupan

berdasarkan pendekatan ada 8:
1. SURVEY
2. EX. POST FACTO
3. EKPERIMEN
4. NATURALISTIK
5. POLICY RESEARCH
6. ACTION RESEARCH
7. EVALUASI
8. SEJARAH

 Penelitian survey – berdasar sampel dari populasi – di generalisasi
 Eks Post Facto – meneliti peristiwa yang telah terjadi
 Penelitian eksperimen pengaruh variabel terhadap variabel
 Pre eksperimen
 True eksperimen
 Factorial
 Quasi eksperimenal
 Naturalistik – kualitatif – alami bukan generalisasi tapi makna
 Policy research masalah-masalah sosial
 Action Research ( penelitian tindakan ) – menguji prosedur terhadap perubahan
 Penelitian evaluasi – sumatif (produk ) & formatif ( proses )
 Penelitian sejarah : analisis logis terhadap kejadian masa lalu

Berdasarkan tingkat eksplanasi
 Penelitian deskriptif
 variabel mandiri, tanpa membuat perbandingan & menghubungkan.
 Penelitian komparatif
 Membandingkan
 variabel mandiri , lebih dari Satu
 Penelitian asosiatif,
 mencari hubungan
 Korelasi
 regresi
 Penelitian eksperimen
 Adanya intervensi
 Melihat efek dari suatu manipulasi
 Eksperimen murni – memungkinkan pengendalian variabel pengacau
 Eksperimen semu = kuasi eksperimen
 Penelitian non eksperimen
 Tak ada intervensi
 Apa adanya – in nature
 Tak mungkin mengontrol semua variabel diluar

Penelitian labotarium:
 Di lab
 Bisa eksperimen, survei, trial
 Optimasi pengukuran, metoda, alat.
 Obyektif, validitas, reliabilitas

Proses penelitian
 SISTEMATIS
 TERSTUKTUR
 DIMENGERTI ORANG LAIN
 LANGKAH-LANGKAH JELAS
 LOGIS
 RASIONAL - SILOGISME
 MUDAH DI CEK KEMBALI
 DAPAT DIPAKAI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
 EMPIRIS
 SESUAI DENGAN KENYATAAN
 ALAT BANTU NYATA UNTUK KELIHATAN NYATA
 REDUKTIF
 MENGURANGI MASALAH / KEBINGUNGAN
 REPLICABLE & TRANSMITABLE
 DAPAT DILAKUKAN ORANG LAIN
 DAPAT DIINFORMASIKAN

KERANGKA PENELITIAN
• Merupakan langkah/kegiatan sistematis yang saling mendukung yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian
• Sangat ditentukan jenis penelitian

PROSES PENELITIAN
3 tahapan utama :
 Perencanaan
 Pelaksanaan
 Penulisan laporan

Desain penelitian meliputi:
1. Desain sampel
2. Desain instrumen
3. Desain analisis
4. Desain administrasi (sistem laporan)

TAHAPAN PENELITIAN
1. Identifikasi, pemilihan dan perumusan masalah
2. Studi kepustakaan
3. Perumusan hipotesis
4. Identifikasi, klasifikasi, dan memberi definisi variabel – variabel
5. Pemilihan/pengembangan alat pengumpul data
6. Penentuan sampel penelitian
7. Pengumpulan data
8. Pengolahan dan analisis data
9. Interpretasi hasil analisis data/penarikan kesimpulan
10. Penyusunan laporan penelitian

IDENTIFIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH
Masalah :
 Pesoalan yan memerlukan pemecahan
 Terjadi bila ada kesenjangan antara
yang seharusnya vs yang terjadi
yang diperlukan vs yang tersedia
harapan vs kenyataan
IDENTIFIKASI MASALAH
• Mengamati gejala (mata yang terlatih)
• Dapat ditemukan melalui :
1. bacaan
2. diskusi, seminar, pertemuan ilmiah
3. pernyataan pemegang otoritas
4. pengamatan
5. pengalaman pribadi
PEMILIHAN MASALAH
Pertimbangan kelayakan (relatif ) :
1. Mempunyai nilai penelitian :
- asli
- mempunyai nilai aplikasi ilmiah (dapat diuji)
- menyatakan hubngan antar variabel
2. Mempunyai fisibilitas :
- data dan metode pemecahan masalah
- biaya, waktu, tenaga
3. Sesuai kualifikasi peneliti :
- menarik
- sesuai derajat ilmiah yang dimiliki
- sesuai kemampuan

PERUMUSAN MASALAH
1. Padat dan jelas
2. Sebaiknya dirumuskan dalam kalimat tanya
3. Dasar untuk perumusan hipotesis, tujuan penelitian dan judul penelitian.

STUDI KEPUSTAKAAN
Sumber bacaan
1. Kepustakaan umum : teori umum, textbook, ensiklopedi
2. Kepustakaan khusus : hal – hal khusus, jurnal, buletin
Kriteria : kemuktahiran dan relevansi

PERUMUSAN HIPOTESIS
Hipotesis :
 jawaban sementara/dugaan tentang masalah penelitian, yang kebenarannya perlu diuji
 taraf ketepatan dugaan dipengaruhi ketepatan landasan teori
 hipotesis yang telah diuji melalui data dan fakta disebut tesis (kebenaran)
 Hipotesis yang baik harus sederhana, mempertimbangkan fakta yang relevan, dapat diuji dengan aplikasi deduktif dan induktif
 Tidak semua penelitian memerlukan hipotesis (misal eksploratif dan deskriptif)

JENIS HIPOTESIS
Berdasarkan fungsi :
1. Hipotesis deskriptif :menggambarkan keadaan obyek penelitian
2. Hipotesis hubungan : hubungan antara 2 atau lebih dari variabel
3. Hipotesis perbedaan :perbedaan antara kelompok yang berlainan

Berdasarkan sifat :
1. Hipotesis kerja : sesuai dugaan peneliti
2. Hipotesis nol : berlawanan dengan dugaan peneliti
3. Hipotesis statistik : dugaan besarnya parameter objek

KONSEP dan VARIABEL
KONSEP :
 Konsep : abstraksi (generalisasi) dari fenomena alam
Contoh : matahari, kreatif, badan
 Variabel :
- fokus pada aspek tertentu dari konsep
- Bagian konsep yang dapat diamati dan diukur
Contoh : badan (konsep)
fokus pada aspek tertentu, misalnya aspek tinggi atau berat; maka “tinggi badan” atau “berat badan” merupakan varaibel.
Variabel :
Faktor atau besaran yang nilainya (sifat atau kategorinya) lebih dari satu dan dapat diukur.
Mengukur variabel ilmu sosial jauh lebih sulit karena bersifat abstrak.
ilmu eksak : relatif lebih mudah diukur karena bersifat riil, misalnya berat, tinggi, luas, dan sebagainya.

JENIS-JENIS VARIABEL
1. Kontinu vs diskrit
 Variabel kontinu : nilainya dapat ditentukan dalam suatu kontinum dengan jarak jangkauan tertentu dengan desimal yang tidak terbatas; dalam bentuk pecahan dan biasanya merupakan hasil pengukuran.
 Variabel diskrit : nilainya dalam bentuk bulat dan dihasilkan dari penghitungan.
2. Dependen vs independen :
 Variabel dependen (tergantung/respon), nilainya tergantung pada variable lain (variable independent/ bebas/ regressor).
 Variabel independen, nilainya bebas tidak tergantung pada variabel lain, tetapi bisa mempengaruhi variabel lain
 Variabel aktif, nilai atau kategorinya bisa dimanipulasi (diubah-ubah) oleh peneliti pada saat akan melakukan penelitian, seperti : dosis obat, shift kerja, dan lainnya.
 Variabel atribut: tidak dapat dimanipulasi oleh peneliti, seperti : sikap, jenis kelamin, kecerdasan, dan lainnya.
 Variabel aktif, nilai atau kategorinya bisa dimanipulasi (diubah-ubah) oleh peneliti pada saat akan melakukan penelitian, seperti : dosis obat, shift kerja, dan lainnya.
 Variabel atribut: tidak dapat dimanipulasi oleh peneliti, seperti : sikap, jenis kelamin, kecerdasan, dan lainnya.

MENDEFINISIKAN VARIABEL
 Cara konstitutif : konsep atau konstrak didefinisikan dengan konsep atau konstrak yang laih.
Contoh : “area” secara konstruktif didefinisikan sebagai “luas sebidang tanah”.
 Cara operasional : memberikan arti atau menspesifikasikan prosedur kegiatan dalam mengukur variable tertentu.
Contoh : “kemampuan” didefinisikan secara operasional sebagai “uji kemampuan berdasarkan nilai ujian akhir”.

HUBUNGAN ANTAR VARIABEL
 Antara 2 variabel atau lebih bisa simetris atau tidak simetris
 Variabel yang satu mempengaruhi variabel yang lain
 Hubungan asimetris 2 variabel : bivariat
 Hubungan asimetris 3 variabel atau lebih : multivariat

KERANGKA BERPIKIR
Merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diindentifikasikan sebagai masalah penting
Kerangka berpikir memuat hal-hal:
 Variabel- variabel yang akan diteliti harus dijelaskan.
 Harus dapat menunjukan dan menjelaskan hubungan antar variabel yang diteliti dan teori yang mendasari.
 Harus dapat menjelaskan apakah hubungan antar variabel itu positif atau negatif, berbentuk simetris atau interaktif (timbal balik)
 Dapat dinyatkan dalam bentuk diagram

Tidak ada komentar:

Posting Komentar